Frans Hartig adalah seorang pendeta yang dilahirkan di kota Bremen, Jerman pada tanggal 5 Juni 1804. Pendeta Hartig pada awalnya melayani di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Tetapi pada tahun 1848 ia dipindahkandi Tanah Minahasa dan ditempatkan di pos penginjilan Kema.
Ketika tiba di Kema Pendeta Hartig dalam keadaan sakit dan fisiknya sangat lemah. Ketika berada di Kema, Pendeta Hartig mendapati kehidupan iman orang-orang Kristen di Kema dan sekitarnya sudah sangat merosot. Maklum, pos penginjilan di Kema telah hampir dua puluh empat tahun terbengkalai setelah Ds. Lammers meninggal dunia. Kebaktian-kebaktian tidak lagi diminati dan dikunjungi oleh jemaa, bahkan tidak sedikit orang Kristen yang kembali lagi kepada kepercayaan lama. Begitu juga mabuk mabukkan dan “Baku piara” alias hidup bersama di luar nikah menjadi hal yang lumrah lagi. Sekalipun kondisi Kekristenan di Kema dan sekitarnya semakin memburuk namun Pdt. Frans Hartig belum dapat berbuat banyak karena kesehatannya belum membaik.
Sekalipun begitu Pendeta Frans Hartig yang dibantu oleh isterinya Helena Oudshoff tetap melaksanakan tugasnya dalam membangun kembali kekristenan di Kema dan sekitarnya yang ditinggalkan Ds. Lammers Pendeta Hartig melayani di Kema dan sekitarnya dari tahun 1848 sampai 1854. Di samping melayani Kema, Frans Hartig juga sempat melayani di Mapanget dan Kaasar. Selain itu juga ia pernah melayani di Likupang dan sekitarnya dalam rangka melanjutkan pelayanan Pendeta J. G. Schwarz yang jatuh sakit.
Selain pernah membantu J. G. Schwarz, Frans Hartig pernah juga melakukan pelayanan bersama Pendeta Nicolaas Graafland di Kauditan, Kawiley dan Treman.
Pada tanggal 29 Agustus 1853 isterinya Helena Oudshoff meninggal dunia dan Pendeta Frans Hartig sendiri meninggal dunia pada tanggal 29 Juni 1854 dan dikuburkan di Kema. Setelah Pendeta Frans Hartig meninggal dunia, pos penginjilan di Kema dilanjutkan oleh Pendeta Linemann.
Pendeta Linemann melayani di Kema dan sekitarnya dalam rangka menggantikan Pendeta Frans Hartig yang meninggal dunia. Selain melayani di Kema ia juga mendapat tugas tambahan di Tonsea. Pada tahun 1854 sampai 1859 ketika terjadi gerakan besar-besaran di mana orang-orang Alifuru berpindah masuk ke agama Kristen, Pendeta Linemann membaptis sekitar 8518 orang dewasa dan anak-anak.
Pada sekitar tahun 1860 atau 1861 Pendeta Linemann sempat juga melayani di Tikala. Di sana ia pernah dibantu oleh penginjil pribumi Lambertus Mangindaan. (Mangindaan sendiri berhenti menjadi penginjil karena perlakuan tak adil yang diterimanya dari NZG dan selanjutnya bekerja sebagai guru bantu di Sekolah Raja—Hofdenschool—di Tondano.) Selain pernah melayani di Tikala, Pendeta Linemann pernah berkarya di Likupang sebelum tahun 1878. Linemann adalah salah seorang Pendeta yang berhasil melakukan pembicaraan dengan para walian dari negeri Sawangan yang mengakibatkan terjadinya arus besar di mana orang Alifuru menjadi Kristen. Linemann juga dianggap sebagai orang yang sangat berhasil dalam memberantas praktik ritual agama kuno rakyat Minahasa di daerah pelayanannya.
Keberhasilan pelayanan Pendeta Linemann di daerah Kema tidak lepas dari bantuan W. Hehanusa seorang murid Josep Kam yang sudah sejak tahun 1830 sudah berada di Tanah Minahasa. (RNA)